Tampilkan postingan dengan label Psikologis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologis. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 September 2010

Remaja Kesepian, Akar dari Masalah Modern???

Di Posting kali ini saya akan membahas tentang syndrom yang dirasakan oleh beberapa teman saya, dan yang pernah saya alami dulu. tapi sebelumnya, yang dimaksud muda dalam judul artikel ini adalah seorang yang sedang dalam peralihan masa pubertas(dari anak-anak ke remaja).

Mungkin anda juga pernah merasakannya, rasa bosan akan suatu hal, sehingga dunia ini serasa sangat sepi, tiada kawan ataupun lawan, tiada motivasi dalam diri yang membuat kita semangat dalam menjalani hidup. Itu disebabkan karena proses pencarian jati diri yang terjadi pada diri kaum remaja, yang tentu menyebabkan para remaja berusaha mencari suatu bidang yang menurut mereka cocok.

Sabtu, 25 September 2010

7 Cara Mencairkan Masalah Di Sekolah


Konflik dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang dihadapkan dengan motif, keyakinan, nilai dan tujuan yang saling bertentangan. Konflik bisa dialami oleh siapapun dan di manapun, termasuk oleh komunitas di sekolah. Siswa, guru, atau pun kepala sekolah dalam waktu-waktu tertentu sangat mungkin dihadapkan dengan konflik.

Konflik yang dialami individu di sekolah dapat hadir dalam berbagai bentuk, bisa dalam bentuk individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. Misalnya, seorang guru berhadapan seorang guru, seorang guru berhadapan dengan sekelompok guru, sekelompok guru tertentu berhadapan dengan sekelompok guru lainnya., dan sejenisnya. Konflik yang terjadi diantara mereka bisa bersifat tertutup, terbuka atau bahkan menjadi konfrontasi.

Apabila konflik yang terjadi di sekolah tidak terkelola dan bersifat destruktif, maka selain dapat mengganggu kesehatan dan kualitas kehidupan seseorang, juga dapat mengganggu terhadap pencapaian efektivitas dan efisiensi pendidikan di sekolah secara keseluruhan.

Terkait dengan upaya mengelola konflik di sekolah, Daniel Robin (2004) dalam sebuah artikelnya menawarkan tujuh sikap yang diperlukan untuk mencairkan konflik.

1. Define what the conflict is about

Definisikan secara jelas konflik apa yang sedang berkembang. Tanyakan pada setiap orang “Ada issue apa?”, lalu tanyakan pula “Apa kepedulian Anda di sini? atau “Apa yang kamu rasakan dan manfaat dari pertengkaran ini”. Secara berkala tanyakan pula “Apa yang ingin Anda capai dan bagamana kita harus mengerjakannya?”

2. It’s not you versus me; it’s you and me versus the problem

Memiliki keyakinan bahwa “Ini bukanlah pertentangan antara anda dengan saya, tetapi ini adalah saya bersama anda melawan masalah itu”. Masalah yang sebenarnya adalah masalah itu sendiri, yang harsus diselesaikan, bukan terletak pada orangnya. Adalah hal yang amat bodoh, jika Anda mencoba mengalahkan salah satu dari antara pihak yang berkonflik, karena suatu saat setelah mereka dikalahkan, meraka akan kembali melakukan pertempuran ulang (rematch) yang terus-menerus, yang mungkin dengan daya tembak yang lebih kuat. Jangan paksa orang untuk bertekuk lutut!

3. Identify your shared concerns against your one shared separation.

Lakukan identifikasi orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama dengan Anda dan orang–orang yang justru berseberangan dengan Anda. Jika dihadapkan pada suatu konflik, buatlah semacam kesepakatan dengan kelompok yang memiliki hubungan paling kuat (dimana Anda menyetujuinya), tidak dengan kelompok yang paling lemah. Ini akan lebih mudah dan juga lebih efektif, apabila Anda hendak mengalihkan hal-hal yang disetujui maupun tidak disetujui. Pahami sudut pandang mereka dan berikan penghargaan atas perbedaaan yang ada.

4. Sort out interpretations from facts.

Memilah interpretasi berdasarkan fakta. Jangan meminta suatu pendapat dari orang yang sedang berkonflik, karena hanya akan memperoleh pendapat dan penafsiran versi mereka. Tetapi sebaiknya ungkapkan “Apa yang telah kamu lakukan atau katakan?” pertanyaan semacam ini akan lebih menggiring pada fakta, yang selanjutnya dapat dijadikan dasar bagi pemecahan konflik

3. Develop a sense of forgiveness.

Kembangkan rasa untuk memaafkan. Tidak mungkin terjadi rekonsiliasi tanpa belajar memaafkan kesalahan orang lain. Banyak orang melakukan perdamaian tetapi tidak bisa mengubur kejadian yang sudah-sudah sehingga pada hari kemudian memunculkan lagi pertengkaran. Oleh karena itu, setiap orang penting untuk dibelajarkan mau memaafkan orang lain secara tulus. Yang lalu biar berlalu, hari ini kenyataan dan esok hari adalah harapan!

6. Learn to listen actively

Belajar mendengar secara aktif. Putarlah paradigma dari ungkapan “ Ketika saya bicara, orang lain mendengarkan” menjadi “Ketika saya mendengarkan, orang lain berbicara kepada saya”. Mendengarkan dengan tujuan untuk memahami, bukan untuk menjawab Mulailah dengan berusaha memahami, kemudian menjadi dipahami. Setidaknya dengan cara ini, akan membantu melepaskan ego atau uneg-uneg yang bersangkutan (katarsis)

7. Purify your heart.

Terakhir, berusaha mensucikan hati. Hati yang bersih merupakan benteng utama dari berbagai serangan dari luar dan juga akan pembimbing kita dalam setiap tindakan. Anda tidak akan mendapatkan konflik atau kekerasan dari orang lain, jika dalam hati dan jiwa Anda bersemayam kebajikan. Rasa benci, iri dan dengki yang bercokol di hati kerapkali menjadi pemicu terjadinya konflik.

Jumat, 24 September 2010

Hargailah Karya Orang lain


Beberapa hari yang lalu, saya membuka kembali buku pelajaran TIK SMP saya. Pada bab terakhir buku tersebut, saya menemukan materi hak cipta. Sekilas memang saya tidak berminat membacanya, secara... saya memang tidak begitu suka dengan hal-hal berbau pasal. Tapi, dalam hati saya mengatakan untuk tetap membacanya...(Sok Yes!!!) Dan akhirnya masuk lagi lah pengetahuan tentang Hak Cipta yang dulu sempat pergi dari otak saya!

UU Hak Cipta, sangat diperlukan bagi para pencipta yang menciptakan sesuatu kreasi. Lebih-lebih di bidang teknologi informasi! kalau tidak ada UU yang mengatur tentang Hak Cipta, kepemilikan suatu karya pastilah akan menjadi relatif, artinya bisa berpindah-pindah dari satu orangke orang lainnya.

Bagi para pencipta suatu kary, pastinya tidak akan senang kalau karyanya tersebut diakui oleh orang lain! Ya kan! Bayangkan saja kalau itu terjadi pada kita! Kita sudah capek-capek membuat sebuah produk yang bermafaat, tiba-tiba diakui oleh orang lain sebagai hasil karyanya, bagaimana perasaan kita?

Proses pelanggaran hak cipta bukan hanya sekedar pengakuan hak milik saja lho! Pengcopian ( melakukan copy paste) suatu software, buku, atau produk lain juga merupakan pelanggaran hak cipta! Kamu bisa dikenai sanksi tahanan yang lama dan atau denda yang sangat besar(menurutku).

So, marilah kita berlomba untuk berkreasi, tapi jangan berlomba untuk merusak kreasi orang lain. jadikan dirimu pencipta, bukan pembajak karya cipta.

Thanks!
##DuGaJa.Blog##